-->

Suara Muslimah : Perempuan, Ibu Kemerdekaan



Oleh: Anisha
 Aktivis KAMMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 
dan aktif di KAMMI Menulis

“Perempuan adalah eksistensi  yang mampu menghaturkan pribadi-pribadi unggul kepada masyarakat, sehingga masyarakat tersebut menjadi sebuah masyarakat yang kokoh dan menjunjung norma-norma agama..”. (Imam Khomaeni ra, Shifieh Nur, jilid. 16, hal. 125). Kemerdekaan turut serta bersama dengan perempuan. Kemerdekaan jua lahir dari rahimnya, air matanya, dan darahnya. Kemerdekaan hadir karena semangat juang dan perasaan yang terlalu dalam, sehingga membawa darah juang mengalir deras di dalam nadinya.

perempuan-berbagi.blogspot.com

Para ibu yang melahirkan para pejuang. Para ibu yang rela dan lillah melepas darah dagingnya untuk menghadap pada kematian atau kehidupan demi kemerdekaan. Para perempuan yang bersikeras membuka lembar demi lembar buku pemikiran. Menuangkannya, meraciknya, dan mempersembahkannya untuk para generasi.

Para perempuan yang menjaga kemuliaan, namun turut mempersembahkan kecerdasan mereka. Perempuan-perempuan yang hadir di medan perang, mengobati luka raga, dan luka jiwa para pejuang. Perempuan yang berjuang demi al-haq dan menolak kebathilan. Perempuan yang lahir bersama dengan ilmu dan pengetahuan dalam setiap helaan napas dan derasnya darah. Perempuan adalah ibu kemerdekaan bagi bumi pertiwi, Indonesia.

Kemerdekaan adalah sajak yang begitu indah. Penuh euforia sukacita dalam menyambut dan merayakannya. Sekiranya kemerdekaan 73 tahun pun, tetap menyisakan nanar, dan menabur garam di atas luka, mereka (rakyat) tetap sumringah. Setiap sudut kota dan desa, Merah-Putih berkibar. Lomba-lomba turut menyemarakkan. Lagu kebangsaan, naskah Proklamasi, diucapkan jelas, tegas, dan tangkas.

Islam memberikan beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, dan memberikan peluang kepada para perempuan untuk aktif dalam berbagai bidang. Ummu Umarah ( Nasibah binti Ka’ab) pernah mengikuti peristiwa bai’at ul-Aqabah kedua, Perang Uhud, Perang Hudaibiyah, Perang Hunain dan Perang Yamamah.

Bahkan, setelah wafat Raslullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pun bermunculan para perempuan yang menguasai keilmuan baik ilmu agama maupun keilmuan lainnya. Tradisi keilmuan agama dikalangan perempuan masih terus berkembang sampai sekarang, dan bahkan di Iran kini banyak ditemukan perempuan yang sudah mencapai derajat ijtihad (disebut dengan mujtahidah), atau ahli dalam bidang irfan (esiterisme Islam). Dapat ditemui pula perempuan-perempuan yang hadir di zaman sekarang yang berperan besar bagi ilmu pengetahuan.

Perempuan adalah mitra bagi laki-laki. Turut bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang ahsan dan beretika. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124). Perihal ibadah, atau menuntut ilmu sekalipun, Allah menyamakan hak antara keduanya.

Al-Qur’an dan Hadits begitu memuliakan perempuan. Namun, ketika para perempuan mulai luntur ghirah dan sayup-sayup hilang makna kemerdekaan itu dalam dirinya, ia tak tentu arah. Feminisme yang alih-alih memperjuangkan hak perempuan, tak lebih dari sekadar topeng yang ingin menjatuh izzah dan iffah perempuan itu sendiri. Momentum kemerdekaan seharusnya menjadi ajang untuk terus memperbaiki diri, dan mempersembahkan buah pemikiran yang lahir dari langit-langit pikiran. Mengukir karya terbaiknya, menyibukkan dirinya untuk mempersiapkan para generasi muda bangsa.

weslyjacob.blogspot.com

Zaman 4.0 yang mereka sebut, semakin marak nikah muda dielu-elukan. Alasannya memang untuk menghindari dari zina, dan lain hal. Lantas, fungsi anjuran berpuasa dan menundukkan pandangan, apakah sedikit bermasalah? Menikah muda tentunya memberikan motivasi bagi yang melihat. Namun, bukan hanya motivsai yang turut hadir di sana. Menjadi kritik tersendiri, bukan menjadi sebuah alasan tidak menyukai. Tapi, alasan tegas yang menggaris bawahi bagaimana cara kita (perempuan) menyikapinya.

Lihatlah bagaimana bunda Khadijah, Ummu Aisyah, dan para sahabat-sahabat perempuan yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu banyak ibrah dan hal-hal yang dapat menggerakkan hati, serta memotivasi diri untuk terus memperbarui, dan memperbaiki kualitas diri. Hidup bukan hanya persoalan menikah muda, maupun berpoligami. Namun, kedua hal tadi patut bagi perempuan untuk mempelajari dan mengetahuinya.

Kemerdekaan hadir. Tapi kemanakah para perempuan Indonesia? Akankah terus berada relikui Feminisme? Ataukah terus berpaku pada satu topik saja? Merdeka adalah sajak, bagi seorang penyair. Sajak yang begitu hati-hati. Sajak yang dirawat baik. Muslimah negarawan tentunya akan semakin terbuka pemikirannya perihal kemerdekaan ini.

0 Response to "Suara Muslimah : Perempuan, Ibu Kemerdekaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel